Kali ini saya pengen bercerita tentang masakan suamiku yang lebih enak dari saya, lebih variatif dari saya. Malu???? Ah tidak, justru saya bangga dan merasa sangat di bantu dalam urusan dapur.
Suatu hari, pernah tetangga main ke rumah dan mencicipi masakan yang sengaja saya sajikan di piring. "Emm, enak, masakanmu", cetusnya. Saya pun tertawa dalam hati tak menjawab, seakan ingin berpura-pura itu masakan saya. hehehehe...
Ya begitulah, rutinitas suamiku yang memang kadang tidak terlalu sibuk dalam pekerjaannya membuatnya sering menyibukkan diri di dapur. Sore ketika saya pulang kerja, kadang dia sudah menyiapkan masakan kesukaan dia yang juga ia berharap kesukaan saya ( kebalik ya). Punya suami doyan masak, memang nggak hanya bikin saya seneng. Kadang saya dibuatnya pusing atau pengen marah setengah mati. Kenapa? Kalau sudah urusan masak-memasak dengan aksi tangan saya...dia akan lebih ribet daripada suami-suami yang jarang menyentuh panci, pisau, bawang merah, bawang daun, atau barang-barang dapaur lainnya. Kadang-kadang, untuk urusan menggoreng telur, memasukkan bumbu ke tumisan, atau kebanyakan memberi gula bisa membuat cekcok. Hehehe.. mungkin ini seninya. Gak akan ada seninya, kalau gak ada ribut-ribut kecil gara-gara garam, micin, dan gula... heheheheh...batinku menyenangkan diri sendiri.
Alhasil, di hari libur, sabtu minggu tak ayal, suamiku masak masakan enak ala kami. Udang saus tiram, udang tepung, bakmi Jawa dan lain-lain. Kadang pun masak masakan ala Jogja yang sekarang susah kami jangkau.
Yah, semoga hobi ini tak sekadar hobi. Bisa nggak ya, kelak jadi bisnis* Mulai melirik usaha kuliner sama suami semoga diberikan jalan.. hehehe..amin
Mengenai Saya
- Dewi Novia
- editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet
Senin, 23 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Gurauan Hidup
Menjadi ibu rumah tangga atau nerusin karier? Itu menjadi dilema bagi saya setelah menikah dan harus ikut suami tinggal di tempat baru yang sama sekali tidak ada saudara di sini. Menikah.... resign dari tempat kerja lama di Jogja yang bagi saya cukup nyaman, dan beradaptasi dengan lingkungan baru, bahasa baru, macet, banjir... hemm.... hemm... aduuuhhh...aduuuuhhh.
" Tenang, kamu entar bisa kok kerja dari rumah. Nulis, jualan online, jadi editor frelence atau apa pun. Waktunya bakal lebih fleksibel dan bisa bikin kamu lebih mandiri", saran teman saya meyakinkan ketika, aku berkeluh kesah tentang ini itu. Serasa masih berat melangkah.
"Yup, saya pun mencoba bekerja dari rumah, menjadi editor frelence dan membiasakan diri menulis. Tapi, agaknya saya belum bisa memanage diri saya untuk bekerja dari rumah, memang sih ada saja kerjaan. Tapi beda aja.... belum lagi tetangga kompleks yang menganggap saya nggak mau keluar rumah, malah dibilangin ini itu. "Maaf bu...saya gak biasa nggosip, tapi salah satu hobi saya nonton gosip artis"..hekekek. Saya sudah terlanjur terbiasa dengan rutinitas pergi pagi pulang petang dan menghabiskan waktu di kantor. Hem.... hem... Bagaimana cara mengubah hal ini ya?"
Akhirnya.. lagi-lagi saya memutuskan untuk bekerja... menantang kemacetan kota Bandung tiap pagi, dan begitu juga ketika pulangnya masih saja macet.
Biarkan dulu saya bergurau dengan waktu, bergurau dengan macet, bergurau dengan buru-buru... dan jika sudah lelah bergurau pun... pasti akan begitu menikmati senangnya bekerja di rumah dan bergurau dengan si kecilku nanti. Amin
" Tenang, kamu entar bisa kok kerja dari rumah. Nulis, jualan online, jadi editor frelence atau apa pun. Waktunya bakal lebih fleksibel dan bisa bikin kamu lebih mandiri", saran teman saya meyakinkan ketika, aku berkeluh kesah tentang ini itu. Serasa masih berat melangkah.
"Yup, saya pun mencoba bekerja dari rumah, menjadi editor frelence dan membiasakan diri menulis. Tapi, agaknya saya belum bisa memanage diri saya untuk bekerja dari rumah, memang sih ada saja kerjaan. Tapi beda aja.... belum lagi tetangga kompleks yang menganggap saya nggak mau keluar rumah, malah dibilangin ini itu. "Maaf bu...saya gak biasa nggosip, tapi salah satu hobi saya nonton gosip artis"..hekekek. Saya sudah terlanjur terbiasa dengan rutinitas pergi pagi pulang petang dan menghabiskan waktu di kantor. Hem.... hem... Bagaimana cara mengubah hal ini ya?"
Akhirnya.. lagi-lagi saya memutuskan untuk bekerja... menantang kemacetan kota Bandung tiap pagi, dan begitu juga ketika pulangnya masih saja macet.
Biarkan dulu saya bergurau dengan waktu, bergurau dengan macet, bergurau dengan buru-buru... dan jika sudah lelah bergurau pun... pasti akan begitu menikmati senangnya bekerja di rumah dan bergurau dengan si kecilku nanti. Amin
Langganan:
Komentar (Atom)