Mengenai Saya

Foto saya
editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet

Kamis, 17 Januari 2013

LANGIT KELABU DI PANTAI DEPOK



“Aku tak bisa berpisah denganmu!”
            Kalimat itulah yang selalu terucap dari mulutnya setiap kali aku sudah lelah dengan semua ini. Aku memang mencintainya, sangat mencintainya. Tapi, batinku serasa sesak ketika laki-laki yang kucintai harus berbagi cinta dengan cewek lain. Aku memang bukan yang pertama, tapi salahkah aku jika aku ingin memilikinya seutuhnya?
            Aku harus menepis keinginanku untuk selalu di sampingnya. Menahan gejolak rindu saat rasa itu benar-benar sudah membuncah dan tak lagi terbendung. Hanya karena dia sedang bersama Amel, cewek resminya. Lalu sampai kapan aku harus terus mengalah dan merasakan sakitnya hati saat aku membayangkan laki-laki yang aku cintai sedang bersama perempuan lain yang juga tak bisa ia tinggalkan.
            Kamu bisa benar-benar berpisah dengannya Nis, BISA! Kalimat itu seakan berteriak kuat beberapa centi dari lubang telingaku. Setiap air mataku tumpah mengingat Bayu, kata-kata itu terngiang di otakku. Namun, lagi-lagi hatiku seperti porak-poranda jika sehari saja aku tak mendengar kabarnya, atau minimal SMS-nya.
            Berkali-kali aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa sekalinya aku jatuh cinta seperti ini. Mencintai laki-laki yang sudah punya cinta dengan perempuan lain. Dan, bodohnya aku mengapa aku mau saja berbagi cinta. Bahkan, tak jarang aku menjadi penghibur saat Bayu tengah punya masalah dengan Amel. Benarkah Bayu hanya menganggapku sebagai pelepas galau dan penghibur hati saat ia tengah punya masalah dengan ceweknya? Sesekali pertanyaan itu menjejali otakku. Sontak aku kembali teringat kala Bayu, meyakinkan aku. Akulah satu-satunya cewek yang bisa menenangkan hatinya. Tapi mengapa, saat aku memohon untuk melepaskan Amel dari sisinya, selalu saja kalimat ‘aku tak bisa’ yang keluar dari mulutnya. Lalu sampai kapan, aku menjadi bagian cintanya yang selalu tak jelas.

***
            Hujan turun membasahi kota Jogja sore ini. Jalanan basah dan bau tanah yang begitu khas membuatku begitu menyukainya. Kubuka tirai jendela kosku. Kuhirup dalam-dalam bau tanah yang sudah berbulan-bulan jarang kurasakan. Kunikmati rintik hujan yang turun tak begitu deras membawa suasana romantis. Sekelebat aku membayangkan Bayu ada di bawah sana, melambaikan tangannya menyuruhku turun dari kamar kosku dan mengajakku pergi menikmati hujan, seperti saat-saat hujan dulu.
            Aku memang suka hujan. Bahkan, laki-laki itu begitu tahu menyenangkanku. Membawaku berputar-putar naik motor tanpa mantel untuk menikmati hujan, tak perduli hujan membasahi baju dan kulit kami. Justru kami sangat menikmatinya. Lalu kami basah kuyup berdua. Bagiku, air hujan yang membasahi baju dan kulit seakan menjadi satu dengan hati kami yang basah, nyaman, adem, seperti tak ada beban yang harus kami tanggung. Saat kami merasakan tubuh kami yang basah bersama hujan yang jatuh bebas di jalanan itu, seperti tak ada lagi ruang dan jarak yang harus kami ‘permasalahkan’ lagi. Kami bebas merasa, kami bebas merindu, tak ada cinta lain, tak ada Amel, hanya kami berdua –aku dan Bayu–.
Hujan Nis… lagi di mana? Muter-muter Yuk!
            Ada bahagia saat hpku tiba-tiba berdering. SMS dari Bayu mengajakku pergi menikmati hujan. Tanpa pikir panjang segera aku balas dengan perasaan tak sabar. Memang, sudah 2 hari Bayu tak datang ke kosan. Katanya, Amel sakit, jadi dia harus menjaga Amel.
Siap dijemput Bay … q tunggu di kos.
            Aku segera bersiap-siap. Bukan untuk mandi, karena justru kami akan hujan-hujanan. Kalau mandi tentu tak ada gunanya. Kukenakan kaus lengan panjang warna hitam dan jins cokelat. Kusisir dan kuikat rambutku seperti biasa. Lalu aku kembali menikmati hujan di balik jendela sambil menunggu Bayu datang. Dari balik jendela, aku bisa tahu sewaktu-waktu laki-laki itu datang dan memanggilku.
            Tak lama, Bayu datang dengan motornya. Ia tak turun dari motor gagah berwarna hijau, hanya mematikan mesinnya. Terlihat ia mendongakkan wajahnya dan membuka helm yang menutup seluruh kepala dan wajahnya itu. Aku buru-buru turun, siap untuk pergi bersamanya.
            Aku langsung membonceng motornya dan memakai helm yang ia bawakan untukku. Aku pun berpegangan erat di pinggangnya, motor pun melesat meninggalkan kosku. Ada rasa bahagia yang menyeruak di hatiku. Hujan sore ini dan laki-laki yang kini tengah berada dalam rangkulanku, seperti tak pernah ingin aku lepaskan. Batinku kembali bergejolak, meminta jawaban apakah benar, selamanya aku bisa merangkulnya seperti ini? Apakah aku bisa selalu menikmati hujan yang membasahi tubuh kami berdua kapan pun aku mau?
            Motor kini melesat ke arah jalan Bantul. Tanpa meminta persetujuanku. Entahlah, aku menurut saja ke mana Bayu akan membawaku menikmati hujan sore ini. Belum juga ia bertanya ini dan itu. Namun, tangannya meremas tanganku yang sedari tadi aku rangkulkan di perutnya. Tangan kirinya menggenggam tanganku erat. Tangannya yang satu lagi sibuk dengan setangnya. Ada sedikit perasaan ganjil yang aku rasakan. Tak biasanya Bayu diam. Biasanya dia sudah cengengesan berbincang ini dan itu saat di motor. Namun, kali ini dia justru menggenggam kuat tanganku, seperti tak ingin dia lepaskan. Aku membuka pembicaraan dalam perjalanan itu.
 “Bay, kenapa, kok diem aja dari tadi?” tanyaku sambil sedikit menolehkan mukaku ke depan ingin melihat wajahnya.
“Gak apa-apa Nis, cuma kangen aja sama kamu!” ucapnya lirih sambil meremas kembali tanganku.
            Aku masih penasaran dengan sikapnya. Pasti ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya. Sekelebat bayangan Amel, cewek manja itu memenuhi pikiranku. Aku pun menerawang, membayangkan sesuatu mungkin akan terjadi denganku dan Bayu. Tapi apa?
“Bay, kita ke Depok atau ke Paris nih?”
“Depok aja ya, sekalian entar kita cari makan di sana, jawab Bayu tanpa basa-basi.
“Oke, lama euy nggak makan ikan bakar,” jawabku mencairkan suasana.
***
            Hujan tak jua berhenti turun. Kami menikmatinya. Aku sengaja membiarkan kakiku telanjang. Kugeletakkan sandalku di pinggir pantai. Aku ingin benar-benar merasakan hujan bersama deru ombak di Pantai Depok dan pasir yang tak malu menempel di sela-sela jari kakiku. Oh, benar-benar indah. Bayu tahu aku benar-benar suka momen ini. Kapan pun aku bisa berteriak bersama hujan, angin, dan ombak.
            Aku berlarian menikmati ombak yang menyapu pasir di bibir pantai, bermain air, tak perduli bajuku sudah basah kuyup berikut celanaku. Aku menarik Bayu menikmati ombak kecil di pinggiran pantai itu. Lalu kami terjatuh bersama, tak ada jarak lagi. Bayu menyulurkan tangannya, mengajakku berdiri. Karena hujan, Pantai Depok cukup sepi. Hanya terlihat beberapa pasangan yang juga hujan-hujanan dan bermain pasir. Dan di warung-warung makan yang menjual seafood terlihat juga beberapa orang tengah menikmati makanan laut.
            Tiba-tiba Bayu duduk di pinggir pantai agak jauh dari jangkauan ombak yang menyapu pasir. Sementara aku masih asyik bermain ombak kecil yang bergulung menyapu gundukan pasir yang kubuat. Namun, aku tiba-tiba tersadar, Bayu tak di dekatku. Ia tengah melihatku dari kejauhan.
“Yah Bay, asyik tahu mainan ombak sama pasir,” ucapku sambil menghampiri Bayu yang sedang duduk.
“Iya, tapi aku pengen menikmati laut dan ombak dari sini, hujan begini tak akan tampak ya senjanya,” ucap Bayu dengan tatapan menerawang.
            Aku duduk di samping Bayu. Menempelkan kepalaku di samping kepalanya. Tatapanku menerawang. Aku asyik melihat ombak yang berdebur seakan memecah bebatuan di sekeliling Pantai Depok, hujan yang masih asyik bercengkerama dengan air laut, dan langit mendung yang enggan menampakkan senja. Ada yang tiba-tiba mengusik hatiku untuk bertanya pada Bayu. Karena, ia tiba-tiba jadi sering melamun.
“Bay, ada masalah?” tanyaku memulai sambil menggenggam tangannya.
            Bayu yang sedari tadi asyik menikmati ombak, tiba-tiba menggeser tubuhnya. Kini tangannya merangkulku dan aku tepat duduk di depannya. Tak ada jawaban dari mulutnya. Tiba-tiba sepi, kami diam untuk beberapa saat. Aku melihat ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Bola matanya sayu, aku tahu dia sedang menyimpan sesuatu.
“Nis, jadilah seperti ombak itu, gelombangnya keras, kuat dan sanggup memecah karang,” kalimat itu keluar dari mulutnya.
“Apa kita bisa kayak gini terus ya, menikmati hujan, ombak, pasir, dan laut tanpa ada penghalang, tanpa ada yang ganggu. Rasanya indaaaaahhhh banget Bay,” aku menempelkan kepalaku di pipi Bayu sambil menggenggam erat tangannya.
“Andaikan bisa ya Nis,” ucapnya lirih.
            Kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu seakan meruntuhkan kebahagiaanku. Kenapa dia bilang ‘andaikan bisa’. Sejurus, aku mulai merasa ada yang aneh. Aku menatap wajah Bayu yang terlihat semakin sedih. Aku yakin, ada yang ingin disampaikan laki-laki ini.
“Bay, kenapa kamu bilang ‘andaikan’ barusan?” ucapku meminta penjelasan.
            Bayu terdiam. Ia menghela napas dan menggenggam erat tanganku. Lalu, terasa bibirnya mengecup lembut keningku. Hatiku basah bersama air hujan yang masih turun dan membasahi kami dalam pelukan sore itu.
“Nis, aku benar-benar tak bisa membayangkan harus kehilanganmu, harus jauh darimu, atau harus berpisah denganmu.”
            Kalimat itu membuat tenggorokanku tiba-tiba kering. Seperti ada ketakutan dan jurang terjal yang siap menceburkanku kapan pun. Jauh dan dalam, tak ada siapa pun yang akan bersamaku, tidak juga Bayu. Pikiranku tiba-tiba membawaku pergi pada sebuah kenyataan, Bayu memang bukan laki-lakiku. Dia milik Amel dan tak akan pernah jadi milikku, kapan pun. Tiba-tiba ada hawa sedih menyelinap di balik pelukan itu.
“Bay, apa kita memang akan berpisah? Apa aku memang harus menghapus cinta ini dan melupakanmu? Apa kamu memang benar-benar sudah memilih Amel dan bukan aku?” tanyaku sambil menghela napas.
            Bayu tiba-tiba terdiam. Dia tak menjawab pertanyaanku. Sementara, aku yakin ada yang disembunyikannya padaku. Tapi apa?
“Bay, kenapa kamu diam, kenapa Bay?” tanyaku memaksa.
            Bayu menatapku, lalu mengusap mataku yang mulai sembab. Membelai rambutku yang basah karena hujan.
“Maafkan aku Nis, maaf!”
            Aku semakin tak tahu dengan kata maaf yang terucap dari bibir Bayu. Apa maksudnya. Apakah dia benar-benar sudah mempunyai keputusan sekarang. Memilih Amel dan meninggalkan aku. Kenapa dia meminta maaf?
“Maksudmu, kamu sudah yakin tidak akan melanjutkan hubungan ini Bay?” tanyaku tak bisa membendung air mata lagi.
            Bayu menatapku dengan wajah memelas, kali ini seperti memohon.
“Nis, aku salah, aku khilaf, Amel hamil, anakku.”
            Seperti tersambar petir rasanya. Baru saja aku mendengar laki-laki yang aku cintai yang selama ini aku perjuangkan untuk mengalah berbagi cinta telah menghamili perempuan yang aku bagi cintanya. Rasanya tubuhku seperti tak sanggup berdiri. Syaraf-syarafku melemah, aku limbung tak tahu harus bagaimana.
            Kulihat mendung makin tebal diujung laut Pantai Depok. Ombak berkali-kali berdebur bertautan menabrak dinding-dinding karang di sekeliling pantai selatan Jogja. Dan aku, terperosok di sini. Di pinggir pantai di bawah langit kelabu yang membelah Pantai Depok. Hatiku tengah porak-poranda kini. Air mataku tumpah bersama hujan yang masih saja membasahi sekujur tubuh ini. Entah kemana harus kubuang cintaku pada laki-laki yang kini masih bersamaku. Kami sama-sama menangis, kami sama-sama mencintai, tapi kami tak mungkin bisa menikmati cinta ini lagi karena cinta itu bukan untukku lagi. BUKAN!

Jatinangor, 15 Januari 2013

Kamis, 10 Januari 2013

35 Week! Yeahhh.... Menunggu Launching Dekbay


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEDtIG22vDf6_E_RpM_qnvowRAl7tbRiKozOxQfjUGkjc9j3fVLkiPWQjzyFvVxGwnh-IMckjOLAjdgjSHs9DUgsassDKn1-P_nZFsv_jR2RhmvJeoUiB2QVP80hdQ4JImXUcXAKvSvoc/s1600/hamil.jpg


Emm.. tepat hari ini usia kehamilan sudah 35 week. Rasanya nano-nano deh, perjuangan sampai 35 week gak kerasa tinggal menghitung hari due date sama dedek. Jadi ingat masa-masa mual tiap pagi dulu, masa-masa kelilingan jatinangor buat cari soto yang rasanya mirip sama soto langganan di Jogja (dan tidak nemu) tapi tak apalah dapat soto Madura yang menjadi sedikit pengobat rasa pengen. Itu dulu namanya ngidam bukan ya? Atau malem-malem tiba-tiba pengen syomai... dan dapatlah syomai ala Cisempur yang rasanya jauh dari syomai yang dipinginin.
          Sekarang ... udah gak mual, udah gak pengen ini dan itu. Tapi, malah pengen ngeborong baju-baju dedek kalau lagi jalan-jalan ke baby shop. Habis lucu-lucu ciiiin! Hadeh... stop belanjanya!
          Di usia 35 week ini keluhan-keluhan tri mester 3 memang seringkali muncul, mengganggu tidur dan bikin galau. Mulai dari punggung sakit, kontraksi palsu (braxton hiks), miring kanan/kiri salah saat tidur, darah rendah, sedikit sesak, dan BESER. Haahaha... memang, ibu hamil tua nggak bisa ngindarin dari apa yang namanya beser. Katanya sih, karena kepala dekbay sudah masuk panggul, jadi dikit-dikit pipis. Selain itu, sudah gak kaget kalau tiba-tiba bentuk perut aneh, menonjol di kiri dan tiba-tiba berubah menonjol di kanan. Atau tiba-tiba seperti ada kaki kecil yang baru saja melemparkan tendangannnya... Hiyaaaaa.... lucu deh. Dia mungkin lagi silat ntu yak? Eits, tapi hasil USG baby girl, masa iya silat???
          Apa pun rasanya, tetep dinikmatilah. Apalagi usia 28 week - 32 week aku dibilang sungsang sama dokter SPogku. Sempet bingung dan khawatir. Alhamdulillah, setelah perjuangan nungging-nungging sehari 5x selama sebulanan ternyata membuahkan hasil dan saat USG 34 week dedek udah benar pada posisinya (^anteng ya dek, jangan berubah-ubah lagi kepalanya sampai nanti kita kopdar ^-^ wokee).
          Perjuangan belum selesai, masih ada beberapa hari atau mungkin minggu lagi ke depan. Banyak PR yang harus tetep aku lakukan. Apa saja sih?
- Minum obat penambah darah secara rutin (hiks, darah rendah)
- Minum Vitamin
- Jalan-jalan tanpa alas kaki tiap pagi dan sore
- Ngepel lantai ala inem
- Makan makanan yang bergizi
- Cek up ke dokter SpoG tiap minggu
- Cari info Rumah Bersalin yang nyaman dan pas di hati ^yang ini biar emak dan bapaknya tenang.
          Segitu dulu yah .... cerita 35 week bersama dedek di perut. Tetep sehat ya dek dan semoga diberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan persalinan nanti. Amin