“Aku tak bisa berpisah denganmu!”
Kalimat
itulah yang selalu terucap dari mulutnya setiap kali aku sudah lelah dengan
semua ini. Aku memang mencintainya, sangat mencintainya. Tapi, batinku serasa
sesak ketika laki-laki yang kucintai harus berbagi cinta dengan cewek lain. Aku
memang bukan yang pertama, tapi salahkah aku jika aku ingin memilikinya
seutuhnya?
Aku
harus menepis keinginanku untuk selalu di sampingnya. Menahan gejolak rindu
saat rasa itu benar-benar sudah membuncah dan tak lagi terbendung. Hanya karena
dia sedang bersama Amel, cewek resminya. Lalu sampai kapan aku harus terus
mengalah dan merasakan sakitnya hati saat aku membayangkan laki-laki yang aku
cintai sedang bersama perempuan lain yang juga tak bisa ia tinggalkan.
Kamu bisa benar-benar berpisah dengannya
Nis, BISA! Kalimat itu seakan berteriak kuat beberapa centi dari lubang
telingaku. Setiap air mataku tumpah mengingat Bayu, kata-kata itu terngiang di
otakku. Namun, lagi-lagi hatiku seperti porak-poranda jika sehari saja aku tak
mendengar kabarnya, atau minimal SMS-nya.
Berkali-kali
aku menyalahkan diriku sendiri. Mengapa sekalinya aku jatuh cinta seperti ini.
Mencintai laki-laki yang sudah punya cinta dengan perempuan lain. Dan, bodohnya
aku mengapa aku mau saja berbagi cinta. Bahkan, tak jarang aku menjadi
penghibur saat Bayu tengah punya masalah dengan Amel. Benarkah Bayu hanya
menganggapku sebagai pelepas galau dan penghibur hati saat ia tengah punya masalah
dengan ceweknya? Sesekali pertanyaan itu menjejali otakku. Sontak aku kembali
teringat kala Bayu, meyakinkan aku. Akulah satu-satunya cewek yang bisa
menenangkan hatinya. Tapi mengapa, saat aku memohon untuk melepaskan Amel dari
sisinya, selalu saja kalimat ‘aku tak bisa’ yang keluar dari mulutnya. Lalu
sampai kapan, aku menjadi bagian cintanya yang selalu tak jelas.
***
Hujan
turun membasahi kota Jogja sore ini. Jalanan basah dan bau tanah yang begitu
khas membuatku begitu menyukainya. Kubuka tirai jendela kosku. Kuhirup
dalam-dalam bau tanah yang sudah berbulan-bulan jarang kurasakan. Kunikmati
rintik hujan yang turun tak begitu deras membawa suasana romantis. Sekelebat
aku membayangkan Bayu ada di bawah sana, melambaikan tangannya menyuruhku turun
dari kamar kosku dan mengajakku pergi menikmati hujan, seperti saat-saat hujan
dulu.
Aku
memang suka hujan. Bahkan, laki-laki itu begitu tahu menyenangkanku. Membawaku
berputar-putar naik motor tanpa mantel untuk menikmati hujan, tak perduli hujan
membasahi baju dan kulit kami. Justru kami sangat menikmatinya. Lalu kami basah
kuyup berdua. Bagiku, air hujan yang membasahi baju dan kulit seakan menjadi
satu dengan hati kami yang basah, nyaman, adem,
seperti tak ada beban yang harus kami tanggung. Saat kami merasakan tubuh kami
yang basah bersama hujan yang jatuh bebas di jalanan itu, seperti tak ada lagi
ruang dan jarak yang harus kami ‘permasalahkan’ lagi. Kami bebas merasa, kami
bebas merindu, tak ada cinta lain, tak ada Amel, hanya kami berdua –aku dan Bayu–.
Hujan
Nis… lagi di mana? Muter-muter Yuk!
Ada
bahagia saat hpku tiba-tiba berdering. SMS dari Bayu mengajakku pergi menikmati
hujan. Tanpa pikir panjang segera aku balas dengan perasaan tak sabar. Memang,
sudah 2 hari Bayu tak datang ke kosan. Katanya, Amel sakit, jadi dia harus
menjaga Amel.
Siap
dijemput Bay … q tunggu di kos.
Aku segera bersiap-siap.
Bukan untuk mandi, karena justru kami akan hujan-hujanan. Kalau mandi tentu tak
ada gunanya. Kukenakan kaus lengan panjang warna hitam dan jins cokelat.
Kusisir dan kuikat rambutku seperti biasa. Lalu aku kembali menikmati hujan di
balik jendela sambil menunggu Bayu datang. Dari balik jendela, aku bisa tahu
sewaktu-waktu laki-laki itu datang dan memanggilku.
Tak
lama, Bayu datang dengan motornya. Ia tak turun dari motor gagah berwarna
hijau, hanya mematikan mesinnya. Terlihat ia mendongakkan wajahnya dan membuka
helm yang menutup seluruh kepala dan wajahnya itu. Aku buru-buru turun, siap
untuk pergi bersamanya.
Aku
langsung membonceng motornya dan memakai helm yang ia bawakan untukku. Aku pun
berpegangan erat di pinggangnya, motor pun melesat meninggalkan kosku. Ada rasa
bahagia yang menyeruak di hatiku. Hujan sore ini dan laki-laki yang kini tengah
berada dalam rangkulanku, seperti tak pernah ingin aku lepaskan. Batinku
kembali bergejolak, meminta jawaban apakah benar, selamanya aku bisa
merangkulnya seperti ini? Apakah aku bisa selalu menikmati hujan yang membasahi
tubuh kami berdua kapan pun aku mau?
Motor
kini melesat ke arah jalan Bantul. Tanpa meminta persetujuanku. Entahlah, aku
menurut saja ke mana Bayu akan membawaku menikmati hujan sore ini. Belum juga
ia bertanya ini dan itu. Namun, tangannya meremas tanganku yang sedari tadi aku
rangkulkan di perutnya. Tangan kirinya menggenggam tanganku erat. Tangannya
yang satu lagi sibuk dengan setangnya. Ada sedikit perasaan ganjil yang aku
rasakan. Tak biasanya Bayu diam. Biasanya dia sudah cengengesan berbincang ini dan itu saat di motor. Namun, kali ini
dia justru menggenggam kuat tanganku, seperti tak ingin dia lepaskan. Aku
membuka pembicaraan dalam perjalanan itu.
“Bay, kenapa, kok diem aja dari tadi?” tanyaku
sambil sedikit menolehkan mukaku ke depan ingin melihat wajahnya.
“Gak apa-apa Nis, cuma kangen aja sama
kamu!” ucapnya lirih sambil meremas kembali tanganku.
Aku
masih penasaran dengan sikapnya. Pasti ada sesuatu yang tengah mengganggu
pikirannya. Sekelebat bayangan Amel, cewek manja itu memenuhi pikiranku. Aku
pun menerawang, membayangkan sesuatu mungkin akan terjadi denganku dan Bayu. Tapi
apa?
“Bay, kita ke Depok atau ke Paris nih?”
“Depok aja ya, sekalian entar kita cari
makan di sana, jawab Bayu tanpa basa-basi.
“Oke, lama euy nggak makan ikan bakar,”
jawabku mencairkan suasana.
***
Hujan
tak jua berhenti turun. Kami menikmatinya. Aku sengaja membiarkan kakiku
telanjang. Kugeletakkan sandalku di pinggir pantai. Aku ingin benar-benar
merasakan hujan bersama deru ombak di Pantai Depok dan pasir yang tak malu
menempel di sela-sela jari kakiku. Oh, benar-benar indah. Bayu tahu aku benar-benar
suka momen ini. Kapan pun aku bisa berteriak bersama hujan, angin, dan ombak.
Aku
berlarian menikmati ombak yang menyapu pasir di bibir pantai, bermain air, tak
perduli bajuku sudah basah kuyup berikut celanaku. Aku menarik Bayu menikmati
ombak kecil di pinggiran pantai itu. Lalu kami terjatuh bersama, tak ada jarak
lagi. Bayu menyulurkan tangannya, mengajakku berdiri. Karena hujan, Pantai
Depok cukup sepi. Hanya terlihat beberapa pasangan yang juga hujan-hujanan dan
bermain pasir. Dan di warung-warung makan yang menjual seafood terlihat juga beberapa orang tengah menikmati makanan laut.
Tiba-tiba
Bayu duduk di pinggir pantai agak jauh dari jangkauan ombak yang menyapu pasir.
Sementara aku masih asyik bermain ombak kecil yang bergulung menyapu gundukan
pasir yang kubuat. Namun, aku tiba-tiba tersadar, Bayu tak di dekatku. Ia
tengah melihatku dari kejauhan.
“Yah Bay, asyik tahu mainan ombak sama
pasir,” ucapku sambil menghampiri Bayu yang sedang duduk.
“Iya, tapi aku pengen menikmati laut dan
ombak dari sini, hujan begini tak akan tampak ya senjanya,” ucap Bayu dengan
tatapan menerawang.
Aku
duduk di samping Bayu. Menempelkan kepalaku di samping kepalanya. Tatapanku
menerawang. Aku asyik melihat ombak yang berdebur seakan memecah bebatuan di
sekeliling Pantai Depok, hujan yang masih asyik bercengkerama dengan air laut,
dan langit mendung yang enggan menampakkan senja. Ada yang tiba-tiba mengusik
hatiku untuk bertanya pada Bayu. Karena, ia tiba-tiba jadi sering melamun.
“Bay, ada masalah?” tanyaku memulai
sambil menggenggam tangannya.
Bayu
yang sedari tadi asyik menikmati ombak, tiba-tiba menggeser tubuhnya. Kini
tangannya merangkulku dan aku tepat duduk di depannya. Tak ada jawaban dari
mulutnya. Tiba-tiba sepi, kami diam untuk beberapa saat. Aku melihat ada
sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Bola matanya sayu, aku tahu dia sedang
menyimpan sesuatu.
“Nis, jadilah seperti ombak itu,
gelombangnya keras, kuat dan sanggup memecah karang,” kalimat itu keluar dari
mulutnya.
“Apa kita bisa kayak gini terus ya,
menikmati hujan, ombak, pasir, dan laut tanpa ada penghalang, tanpa ada yang
ganggu. Rasanya indaaaaahhhh banget Bay,” aku menempelkan kepalaku di pipi Bayu
sambil menggenggam erat tangannya.
“Andaikan bisa ya Nis,” ucapnya lirih.
Kalimat
yang baru saja keluar dari mulutnya itu seakan meruntuhkan kebahagiaanku.
Kenapa dia bilang ‘andaikan bisa’. Sejurus, aku mulai merasa ada yang aneh. Aku
menatap wajah Bayu yang terlihat semakin sedih. Aku yakin, ada yang ingin
disampaikan laki-laki ini.
“Bay, kenapa kamu bilang ‘andaikan’
barusan?” ucapku meminta penjelasan.
Bayu
terdiam. Ia menghela napas dan menggenggam erat tanganku. Lalu, terasa bibirnya
mengecup lembut keningku. Hatiku basah bersama air hujan yang masih turun dan
membasahi kami dalam pelukan sore itu.
“Nis, aku benar-benar tak bisa
membayangkan harus kehilanganmu, harus jauh darimu, atau harus berpisah
denganmu.”
Kalimat
itu membuat tenggorokanku tiba-tiba kering. Seperti ada ketakutan dan jurang
terjal yang siap menceburkanku kapan pun. Jauh dan dalam, tak ada siapa pun
yang akan bersamaku, tidak juga Bayu. Pikiranku tiba-tiba membawaku pergi pada
sebuah kenyataan, Bayu memang bukan laki-lakiku. Dia milik Amel dan tak akan
pernah jadi milikku, kapan pun. Tiba-tiba ada hawa sedih menyelinap di balik
pelukan itu.
“Bay, apa kita memang akan berpisah? Apa
aku memang harus menghapus cinta ini dan melupakanmu? Apa kamu memang
benar-benar sudah memilih Amel dan bukan aku?” tanyaku sambil menghela napas.
Bayu
tiba-tiba terdiam. Dia tak menjawab pertanyaanku. Sementara, aku yakin ada yang
disembunyikannya padaku. Tapi apa?
“Bay, kenapa kamu diam, kenapa Bay?”
tanyaku memaksa.
Bayu
menatapku, lalu mengusap mataku yang mulai sembab. Membelai rambutku yang basah
karena hujan.
“Maafkan aku Nis, maaf!”
Aku
semakin tak tahu dengan kata maaf yang terucap dari bibir Bayu. Apa maksudnya.
Apakah dia benar-benar sudah mempunyai keputusan sekarang. Memilih Amel dan
meninggalkan aku. Kenapa dia meminta maaf?
“Maksudmu, kamu sudah yakin tidak akan
melanjutkan hubungan ini Bay?” tanyaku tak bisa membendung air mata lagi.
Bayu
menatapku dengan wajah memelas, kali ini seperti memohon.
“Nis, aku salah, aku khilaf, Amel hamil,
anakku.”
Seperti
tersambar petir rasanya. Baru saja aku mendengar laki-laki yang aku cintai yang
selama ini aku perjuangkan untuk mengalah berbagi cinta telah menghamili
perempuan yang aku bagi cintanya. Rasanya tubuhku seperti tak sanggup berdiri.
Syaraf-syarafku melemah, aku limbung tak tahu harus bagaimana.
Kulihat
mendung makin tebal diujung laut Pantai Depok. Ombak berkali-kali berdebur
bertautan menabrak dinding-dinding karang di sekeliling pantai selatan Jogja.
Dan aku, terperosok di sini. Di pinggir pantai di bawah langit kelabu yang
membelah Pantai Depok. Hatiku tengah porak-poranda kini. Air mataku tumpah
bersama hujan yang masih saja membasahi sekujur tubuh ini. Entah kemana harus
kubuang cintaku pada laki-laki yang kini masih bersamaku. Kami sama-sama
menangis, kami sama-sama mencintai, tapi kami tak mungkin bisa menikmati cinta
ini lagi karena cinta itu bukan untukku lagi. BUKAN!
Jatinangor, 15 Januari 2013

