“Masa sih perempuan nggak bisa masak!” Celetuk ibu saya
waktu itu. Meski, boleh dikata umur saya masih belum malu-maluin untuk dibilang
tidak bisa masak. Yup, karena waktu itu saya masih kelas 6 SD. Saya yang masih
SD memang sering ngrecokin ibu saya di dapur. Mulai bantuin ngulek bumbu, iris
bawang merah, dan lainnya. Sebenarnya saya juga tidak memiliki cita-cita,
sebagai perempuan pintar masak nanti, karena mungkin 15 tahun lagi ketika saya nanti
berumah tangga, saya mau apa-apa ada yang urus, karena saya ingin menjadi
wanita karier dan membantu suami menopang kebutuhan keluarga “ce ilee” (pemikiran polos anak SD yang
mikir hidupnya mapan di masa depan).
Sampai suatu hari, saya dan keluarga
makan di sebuah warung makan khas kota kelahiran saya, Gunungkidul, yakni Sayur
Lombok Ijo Nasi Merah Mbah Jirak Semanu Gunungkidul. Warung makan yang tidak
pernah sepi. Di balik kesederhanaan warung berdinding bambu ini, tak jarang
pelanggannya bermobil merci dan mobil mewah lainnya. Bahkan, sering pula
berplat nomor luar kota.
Pertama kali ke warung itu, saya
merasakan sayur lombok ijonya nendang banget rasanya. Di tambah menu lainnya,
yakni empal sapi dan nasi merah, membuat saya juga keluarga makan dengan
nikmat. Dari situ, saya ingin sekali membuat sayur lombok ijo sendiri di rumah. Saking ingin membuat masakan ala warung
makan Mbah Jirak yang enak itu.
Yah,
dan jadilah saya mempraktikannya di rumah dengan tangan sendiri. Suatu hari
saya pun berniat membuat sayur itu, “Bu aku mau bikin sayur kayak di warung
kemarin apa saja bahannya?” tanyaku kepada ibuku.
Tapi, namanya anak kecil, bolak-balik tanya resep ke
ibu, dikasih tahu namun tetap saja tanya lagi dan tanya lagi. Mungkin, waktu itu ibu saya jengkel menjawab pertanyaan saya. Yang
paling lucu, dan sampai saat ini membuat saya ketawa kalau ingat adalah soal
daun salam. Saking jengkelnya menjawab pertanyaan saya mengenai bahan-bahan
membuat sayur lombok ijo sampai-sampai ketika saya tanya, “Daun salamnya pakai
berapa lembar bu?” Apa jawaban ibu saya waktu itu?
“Pakai aja
tujuh!” jawab ibu saya sambil berlalu karena sudah pusing dengan ulah saya. Apalagi dapur berantakan, alat-alat
masak ibu berserakan di mana-mana. Belum lagi air yang berceceran, membuat
lantai dapur basah tak karuan. Maklumlah, baru pertama kalinya masak, sudah tidak memperhatikan harus rapi ini dan itu.
Dan, kedodolan saya pun dimulai. Saya
benar-benar memasukkan tujuh lembar daun salam di sayur lombok ijo yang saya
buat. Setelah matang, saya lalu
menyajikan sayur itu di dalam mangkok untuk disantap keluarga. Ayah saya pun,
ingin mencoba masakan saya kala itu, namun ia tertawa melihat sayur lombok ijo yang
penuh daun salam. "Ini bukan sayur lombok ijo, tapi sayur daun salam", celetuknya sambil makan. Dan ibu pun tertawa terpingkal-pingkal.
“Ibu tadi itu bilang
berkali-kali, daun salamnya 1 atau 2 saja, tapi kamu terus saja tanya, ibu capek ya sudah ibu bilang tujuh, ee…
ternyata kamu masukkan beneran tujuh”, cetus ibu masih dengan tawanya.
Tapi, mereka pun lalu mencicipi masakan pertama putrinya,
meski rasanya pastilah aneh. Dan aku, begitu senang karena bisa memasak sayur
lombok ijo meski rasanya memang jauh jika dibandingkan warung makan Mbah Jirak. "Yang penting, masakanku tidak mubazir, apa pun rasanya toh bapak dan ibuku masih mau memakannya", pembelaan dalam diriku kala itu.
Pengalaman
pertama memasak memang sulit dilupakan. Lucu, konyol, penuh keingintahuan ala
anak-anak putri yang beranjak remaja. Sampai sekarang pun, ketika saya sudah
menikah, lalu memasak menggunakan daun salam, saya masih sering teringat dan
tertawa sendirian. Di tambah lagi dengan telepon ibu dari rumah (Gunungkidul) yang
kadang bertanya, “Masak apa hari ini, pakai daun salam berapa, tujuh?”
Hahaha.... dan saya langsung ingat momen itu.
Kini
saya tinggal jauh dari orang tua, menikah, dan merantau ke Bandung bersama suami. Kadang,
ketika rindu kampungku, Gunungkidul, sayur lombok ijo tak ayal menjadi menu istimewa
bagi kami sekeluarga. Tak,
jarang suamiku bilang “Masakanmu enak lho dik,” hehe.. saya pun jadi tersipu. Tapi, tentu sekarang daun
salam yang saya pakai hanya 2-3 lembar saja.
Dan,
ini adalah masakan saya yang saya ceritakan dari tadi, namun dengan daun salam
yang tidak lagi tujuh dan juga dimasak oleh tangan perempuan yang sudah dewasa,
yakni saya yang kini
sudah 26 tahun. Sayur lombok ijo ini pun, menjadi pengobat rindu akan kampung halamanku, dan juga rumahku, yang sering menjadikannya menu andalan dalam keseharian keluarga. Apa
saja sih resepnya? Sederhana saja kok. Berikut ini resepnya.
Sayur Lombok Ijo
Bahan:
- 2 lonjor tempe (@2 ribuan)
- 600 ml air untuk menyantan
- 1/2 butir kelapa
- ½ ons cabai hijau
- 5 butir cabai rawit hijau
- 2 sdm minyak goreng untuk menumis
- 2 siung bawang putih (haluskan)
- 1 sdt garam (haluskan)
- 4 siung bawang merah (iris)
- 1 rsj lengkuas (iris)
- ½ sdt micin
- 2 lembar daun salam
- ½ sdt ebi
- Gula merah secukupnya
Cara membuat:
1. Tumis bawang merah sampai harum. Masukkan cabai, tumis sampai matang.
2. Masukkan bumbu halus, aduk rata sampai harum.
1. Tumis bawang merah sampai harum. Masukkan cabai, tumis sampai matang.
2. Masukkan bumbu halus, aduk rata sampai harum.
3. Tambahkan tempe, ebi, daun
salam, lengkuas, gula, micin aduk sampai rata lagi.
4. Masukkan santan, aduk rata jangan biarkan santan menggumpal.
5. Tunggu hingga mendidih dan harum.
6. Angkat, dan sajikan bersama keluarga tercinta.
4. Masukkan santan, aduk rata jangan biarkan santan menggumpal.
5. Tunggu hingga mendidih dan harum.
6. Angkat, dan sajikan bersama keluarga tercinta.
Dan, inilah
sayur lombok ijo buatanku. Hemmm,, paling pas ditambah kudapan daun singkong atau daun bayam. Sayang, stok sayuran dikulkas saya tinggal tomat dan labu, dijadikan garnis saja gpp ya ^...^ Yups, ada yang mau mencicipi, monggo silakan?
Ini pengalaman
pertama memasakku, apa pengalamanmu?



