Mengenai Saya

Foto saya
editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet

Jumat, 17 Februari 2012

Suatu Pagi di Hari Senin

    Hari Senin... apa komentar kamu tentang hari Senin? "Satu hari di awal minggu, hari yang sibuk dengan rutinitas kerja, hari yang biasanya lebih macet dari hari-hari lainnya". Atau apa punlah sederet komentar terhadap hari Senin ini. Kalau bagi saya, hari Senin adalah hari di mana saya harus berangkat kerja lebih pagi, dan akan berebut angkutan ke kota (kantor) di pintu tol supaya tidak terlambat.
    Sudah,... aku tidak akan lagi membahas tentang makna hari Senin, tapi lebih ke sebuah pagi di hari Senin itu.
Seorang ibu tergopoh-gopoh berseragam PNS menyeberang jalanan yang begitu padat oleh kemacetan kota. Usia beliau mungkin seumuran dengan usia ibuku ya, sekitar 50an tahun. Namun, karena beliau agak gemuk jadi terlihat tergopoh-gopoh cara berjalannya. Aku melihat sang ibu menyeberang sampai ia berhasil melewati lalu lalang bis, motor, mobil yang begitu padat merayap. Dia berjalan ke sebuah halte di mana aku berdiri menunggu angkutan ke kota.
       Aku pun tersenyum, karena beliau juga menitipkan senyum dari balik lipstik tebal dan wajah yang mulai mengerut itu.
"Bade ngadamel neng"?
"Iya buk, jawabku sembari tersenyum".
"Ini teh jam seberaha ya neng?"
"Jam 7 .15 bu".
Beliau tampak panik setelah mendengar jawabanku.
"Ibu teh, telat neng, upacara tos mulai... padahal saya pembina upacara".
Ternyata si ibu adalah guru SD dan sudah jam 7 lebih dia masih di pintu tol, padahal dari pintu tol ke sekolah tempat ia mengajar biasanya ditempuh 1 jam. Ini gara-gara kena macet.
1 angkutan tak berhenti,
2 angkutan tak berhenti,
3 angkutan juga tak berhenti, semuanya penuh.

Si ibu tampak bingung, tidak mendapat angkot. Kalau saya, memang masih kepagian berangkat jam segitu. Berangkat jam 8 kurang 15 pun gak akan terlambat.
Kali ini, ada bus DAMRI, bus biru yang lewat di depanku dan si ibu itu terlihat sudah sesak. Bus Damri tidak berhenti di depan kami, padahal si ibu mau ikut menumpang. Bus itu memang memperlambat jalannya.
Seketika si ibu mengejar bus DAMRI sambil berlari tergopoh-gopoh. Sepatu jinjit, tas tangan berisikan tumpukan buku dan kertas tak diindahkannya. Bus Damri berhenti 300 meter jauh di depan kami. Dan si ibu tetap berlari mengejarnya. Andaikan si ibu itu ibu saya, batin saya (miris).

Pagi itu, saya hanya tertegun, melihat sang ibu yang berlari mengejar bus itu. Saya membayangkan jika itu ibu saya. Harus berlari-lari mengejar angkutan karena sudah terkejar waktu, harus serba diburu-buru karena berangkat terlambat sedikit pasti akan terkena macet. Ternyata benar, kehidupan di kota itu lebih keras.

Syukurlah, ibu saya tinggal di desa yang tak kenal macet
Syukurlah, ibu saya bisa naik motor
Syukurlah, ibu saya bisa mengajar tepat waktu tanpa harus memburu angkutan

Dan, masih dengan ketertegunan pagi itu, semoga si ibu yang tergopoh-gopoh mengejar Damri itu selamat sampai sekolahnya dan bisa mengajar meskipun terlambat terjebak kemacetan Bandung.

(Tol Cileunyi, suatu pagi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar