Mengenai Saya

Foto saya
editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet

Rabu, 24 Oktober 2012

KEHAMILAN PERTAMAKU BERSAMA AYAH BUNDA



Tak sabar rasanya menunggu hari itu, ketika tangis si kecil hadir di dunia. Yah, sudah lebih dari setahun aku dan suamiku menunggu-nunggu kabar bahagia tentang kehamilanku sejak aku menikah April 2011 lalu.
           Tadinya sempat sedih, kenapa aku tak hamil-hamil. Dalam masa-masa ini, saya pun jadi rajin mencari tahu tips supaya cepat hamil. Saya pun mencari tahu aneka zat penting untuk kesuburan dari website Ayah Bunda. Dari sana saya pun semakin yakin untuk mengkonsumsi makanan-makanan itu juga suamiku.
Akhirnya, kebahagiaan itu datang juga. Sebuah sore yang indah sehabis pulang kerja, aku pun niat sekali melakukan testpack. Yup benar, ada dua garis dalam alat tes kehamilan, sebagai pertanda bahwa aku positif hamil. Lalu, kami pun yakin kalau benar-benar hamil setelah periksa ke dr. SpoG dan menurut bu dokter spesialis kandungan tersebut aku positif hamil 2 week.
Hari-hari bahagia bersama dedek kecil di perut akhirnya penuh kejutan. Tiap minggu selalu saja ada hal baru yang aku rasakan. Mulai dari merasa neg dan mual di usia kehamilan 2 bulan sampai 3 bulan hingga keinginan aneh atau yang akrab dikenal ngidam. Sebagai wanita pekerja, saya pun tak ingin mual mengganggu aktivitas kerja. Namun, terkadang khawatir dengan obat antimual yang diresepkan dokter apakah aman untuk si dedek. Jadilah saya rajin mencari informasi penggunaan obat anti mual untuk ibu hamil.
Selain itu, karena ini kehamilan pertama, suami, orang tua, mertua, bahkan beberapa tetangga jadi ikut mewanti-wanti saya untuk tidak makan ini dan itu. “Hati-hati Nduk makannya, kandungannya masih rawan, jangan makan nanas,” kata orang tua. Apa benar sih nanas itu tidak boleh dikonsumsi ibu hamil. Berkat Ayah dan Bunda, saya jadi tahu, ternyata itu hanyalah mitos dan ibu hamil boleh makan buah nanas. Bahkan anggapan tidak boleh makan daging kambing, durian, cumi-cumi, masakan pedas hanya mitos. Tidak ada yang dipantang ibu hamil, asal tidak berlebihan. “Hore! Aku boleh makan apa pun kamu juga dek, asal sehat,” selorohku waktu itu.
Kini kejutan-kejutan dari dedek bayi di perut kian hari kian menakjubkan. Aku sudah bisa merasakan tendangan-tendangan kecilnya. Mungkin si dedek bayi sedang asyik jumpalitan di dalam perut sana ya? Nah, kalau sudah merasakan nyerinya, aku tidak boleh mengeluh. 
Aku pun suka mendengarkan musik untuk si dedek bayi. Sembari bekerja di kantor, kuputar saja musik klasik untuknya dan juga untukku. Ceritanya, kami saling berbagi headset gitulah. Satu headset kutaruh di telingaku satu lagi di perutku. Kita kompak banget kan? Terkadang teman kantor yang melihat ketawa-ketiwi melihat tingkah bumil sepertiku ini. Apa pun pasti kulakukan, mengingat pentingnya musik untuk stimulasi janin.
Aku dan suami juga tidak ingin kehilangan moment-moment berharga saat kehamilanku ini. Setiap bulan, saya selalu rutin melakukan USG untuk melihat perkembangannya di dalam perut sana. Hem, ingin nangis rasanya setiap kali dokter menjelaskan ini dan itu di monitor sambil melakukan USG. 
Saya juga mencari informasi mengenai USG untuk kehamilan ini dari majalah Ayah Bunda. Nah, ini foto saya saat sedang membaca majalah Ayah Bunda.





Sekarang usia kehamilanku sudah 6 bulan. Selain persiapan mental untuk menghadapi persalinan nanti, aku pun mulai intip-intip beberapa baby shop untuk membeli baju dan perlengkapan bayi. Di sini aku nggak boleh kalab juga ya, karena harus hati-hati mempersiapkan segalanya termasuk keuangan. Tentulah, karena periksa rutin kehamilan setiap bulan, nutrisi yang bagus, susu kehamilan, biaya persalinan dan perlengkapan bayi itu tidak bisa dikatakan murah. Untuk mengatasi semua ini, saya pun juga belajar banyak lho dari  tips hemat belanja kebutuhan bayi. Andai saja saya tidak jauh dari saudara dan orang tua, mungkin bisa juga sedikit berhemat dengan memakai lungsuran anak sepupuku.
Sambil mempersiapkan segalanya menyambut si buah hati, menikmati kejutan-kejutan aduhai di trimester tiga ini Ayah Bunda pastilah selalu menjadi website langgananku. Apalagi banyak sekali nanti yang harus kuketahui setelah tangis merdunya meluluhkan hatiku dan kuberikan asi pertamaku. Yup, dan semua itu ada di Ayah Bunda, mulai dari bagaimana menyusuinya, pascamelahirkan, sampai mengetahui pertumbuhan bayi. Rasanya sudah tak sabar, semoga diberikan kelancaran untuk menjadi orang tua yang bisa mendidik dan merawatnya kelak.
Terima kasih Ayah Bunda, hari-hari bersama perut buncitku begitu berkesan dan istimewa bersamamu.


Minggu, 21 Oktober 2012

Kehamilanku Vs Mi Instan

                

                                        Sumber: femina.co.id


 “Kamu nggak boleh lagi makan mi instan, karena kamu lagi hamil!” ucapan suamiku suatu hari.
Padahal, aku doyan banget sama yang namanya mi instan. Apalagi kebiasaan lama sebagai anak kos di Jogja, yang terbiasa perut keroncongan di malam hari. Kemana lagi kalo nggak lari ke borjo dekat kos-kosan dan memesan mi telor rebus + cabai rawit mantaps buatan si mas-mas borjo.
                Kini, demi dedek bayi yang tengah ada di rahimku, aku nggak boleh lagi makan mi instan. Sedih sih, tapi harus gimana lagi. Sebenarnya hal ini terlalu berlebihan nggak sih?  Pikirku kemudian. Aku pun mulai bertanya ke sana-kesini soal hal ini. Pendapat pun berbeda-beda. Kalau dari beberapa teman sih bilang,”gpp kok... asal jangan sering-sering, buat aja kalo lagi pengen,” kata tetanggaku yang dulu tetap makan mi instan ketika hamil anak pertamanya yang kini sudah 4 tahun dan tidak terjadi apa-apa.
                Tapi, pendapat berbeda lagi dari teman kantor yang memang background pendidikannya dari kesehatan ini. “Emm, mi instan itu buat orang dewasa dan sehat saja sebenarnya nggak  boleh, apalagi buat yang baru hamil!” Gubrak... padamlah keinginan saya untuk mengeyel ini dan itu, karena sebenarnya pengennnnnn banget makan mi instan pas hamil.
                Tapi lagi-lagi aku harus berpikir ulang ketika melihat stock mi instan di rumah yang sangat menggoda untuk kumasak itu. “Tetap saja aku tidak berani!” Kuamati beberapa mi instan yang pernah kubeli sebelum aku hamil itu. Dari mi goreng dengan merek X dengan rasa rendang pedas, balado sampai mi rebus dengan merek berbeda dan rasa gulai pedas, soto, dan kari favoritku. Kuhitung, jumlahnya ada 10. Mau diapakan??? Kubaca expired-nya... ternyata tinggal 1 bulan lagi.
                Sayang sih dibuang, tapi sayang juga untuk dimakan... sayang si dedek maksudku. Dan ternyata, Jreng... jreng! Demi menyelamatkan nafsuku untuk tidak makan si mi instan... suamiku membuangnya dan melarangku untuk tidak membelinya saat belanja ke supermarket. Ya sudah... dada dulu mi instan... tunggu si dedek bayi lahir, dengan sehat, selamat, shaleh, dan pintar (^pintarnya harus lebih pintar dr ayah dan bundanya lho!). OK Nak, karena Bunda sudah berjuang tidak menyentuh mi instan juga demi kamu... *halah.
                Sabar, 3 bulan lagi... bisa makan mi instan + telur + cabe rawit.. *slurpppppp!