Sumber: femina.co.id
“Kamu nggak boleh lagi makan mi instan, karena kamu lagi hamil!” ucapan suamiku suatu hari.
Padahal, aku doyan banget sama
yang namanya mi instan. Apalagi kebiasaan lama sebagai anak kos di Jogja, yang
terbiasa perut keroncongan di malam hari. Kemana lagi kalo nggak lari ke borjo
dekat kos-kosan dan memesan mi telor rebus + cabai rawit mantaps buatan si
mas-mas borjo.
Kini,
demi dedek bayi yang tengah ada di rahimku, aku nggak boleh lagi makan mi
instan. Sedih sih, tapi harus gimana lagi. Sebenarnya hal ini terlalu berlebihan
nggak sih? Pikirku kemudian. Aku pun
mulai bertanya ke sana-kesini soal hal ini. Pendapat pun berbeda-beda. Kalau
dari beberapa teman sih bilang,”gpp kok... asal jangan sering-sering, buat aja
kalo lagi pengen,” kata tetanggaku yang dulu tetap makan mi instan ketika hamil
anak pertamanya yang kini sudah 4 tahun dan tidak terjadi apa-apa.
Tapi,
pendapat berbeda lagi dari teman kantor yang memang background pendidikannya
dari kesehatan ini. “Emm, mi instan itu buat orang dewasa dan sehat saja
sebenarnya nggak boleh, apalagi buat
yang baru hamil!” Gubrak... padamlah keinginan saya untuk mengeyel ini dan itu,
karena sebenarnya pengennnnnn banget makan mi instan pas hamil.
Tapi
lagi-lagi aku harus berpikir ulang ketika melihat stock mi instan di rumah yang
sangat menggoda untuk kumasak itu. “Tetap saja aku tidak berani!” Kuamati
beberapa mi instan yang pernah kubeli sebelum aku hamil itu. Dari mi goreng
dengan merek X dengan rasa rendang pedas, balado sampai mi rebus dengan merek
berbeda dan rasa gulai pedas, soto, dan kari favoritku. Kuhitung, jumlahnya ada
10. Mau diapakan??? Kubaca expired-nya... ternyata tinggal 1 bulan lagi.
Sayang
sih dibuang, tapi sayang juga untuk dimakan... sayang si dedek maksudku. Dan
ternyata, Jreng... jreng! Demi menyelamatkan nafsuku untuk tidak makan si mi
instan... suamiku membuangnya dan melarangku untuk tidak membelinya saat
belanja ke supermarket. Ya sudah... dada dulu mi instan... tunggu si dedek bayi
lahir, dengan sehat, selamat, shaleh, dan pintar (^pintarnya harus lebih pintar
dr ayah dan bundanya lho!). OK Nak, karena Bunda sudah berjuang tidak menyentuh
mi instan juga demi kamu... *halah.
Sabar,
3 bulan lagi... bisa makan mi instan + telur + cabe rawit.. *slurpppppp!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar