Mengenai Saya

Foto saya
editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet

Minggu, 21 Oktober 2012

Kehamilanku Vs Mi Instan

                

                                        Sumber: femina.co.id


 “Kamu nggak boleh lagi makan mi instan, karena kamu lagi hamil!” ucapan suamiku suatu hari.
Padahal, aku doyan banget sama yang namanya mi instan. Apalagi kebiasaan lama sebagai anak kos di Jogja, yang terbiasa perut keroncongan di malam hari. Kemana lagi kalo nggak lari ke borjo dekat kos-kosan dan memesan mi telor rebus + cabai rawit mantaps buatan si mas-mas borjo.
                Kini, demi dedek bayi yang tengah ada di rahimku, aku nggak boleh lagi makan mi instan. Sedih sih, tapi harus gimana lagi. Sebenarnya hal ini terlalu berlebihan nggak sih?  Pikirku kemudian. Aku pun mulai bertanya ke sana-kesini soal hal ini. Pendapat pun berbeda-beda. Kalau dari beberapa teman sih bilang,”gpp kok... asal jangan sering-sering, buat aja kalo lagi pengen,” kata tetanggaku yang dulu tetap makan mi instan ketika hamil anak pertamanya yang kini sudah 4 tahun dan tidak terjadi apa-apa.
                Tapi, pendapat berbeda lagi dari teman kantor yang memang background pendidikannya dari kesehatan ini. “Emm, mi instan itu buat orang dewasa dan sehat saja sebenarnya nggak  boleh, apalagi buat yang baru hamil!” Gubrak... padamlah keinginan saya untuk mengeyel ini dan itu, karena sebenarnya pengennnnnn banget makan mi instan pas hamil.
                Tapi lagi-lagi aku harus berpikir ulang ketika melihat stock mi instan di rumah yang sangat menggoda untuk kumasak itu. “Tetap saja aku tidak berani!” Kuamati beberapa mi instan yang pernah kubeli sebelum aku hamil itu. Dari mi goreng dengan merek X dengan rasa rendang pedas, balado sampai mi rebus dengan merek berbeda dan rasa gulai pedas, soto, dan kari favoritku. Kuhitung, jumlahnya ada 10. Mau diapakan??? Kubaca expired-nya... ternyata tinggal 1 bulan lagi.
                Sayang sih dibuang, tapi sayang juga untuk dimakan... sayang si dedek maksudku. Dan ternyata, Jreng... jreng! Demi menyelamatkan nafsuku untuk tidak makan si mi instan... suamiku membuangnya dan melarangku untuk tidak membelinya saat belanja ke supermarket. Ya sudah... dada dulu mi instan... tunggu si dedek bayi lahir, dengan sehat, selamat, shaleh, dan pintar (^pintarnya harus lebih pintar dr ayah dan bundanya lho!). OK Nak, karena Bunda sudah berjuang tidak menyentuh mi instan juga demi kamu... *halah.
                Sabar, 3 bulan lagi... bisa makan mi instan + telur + cabe rawit.. *slurpppppp!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar