Mengenai Saya

Foto saya
editor, penulis, suka banget sama dunia anak-anak,cerewet kadang-kadang kalo mau cerewet

Rabu, 24 Oktober 2012

KEHAMILAN PERTAMAKU BERSAMA AYAH BUNDA



Tak sabar rasanya menunggu hari itu, ketika tangis si kecil hadir di dunia. Yah, sudah lebih dari setahun aku dan suamiku menunggu-nunggu kabar bahagia tentang kehamilanku sejak aku menikah April 2011 lalu.
           Tadinya sempat sedih, kenapa aku tak hamil-hamil. Dalam masa-masa ini, saya pun jadi rajin mencari tahu tips supaya cepat hamil. Saya pun mencari tahu aneka zat penting untuk kesuburan dari website Ayah Bunda. Dari sana saya pun semakin yakin untuk mengkonsumsi makanan-makanan itu juga suamiku.
Akhirnya, kebahagiaan itu datang juga. Sebuah sore yang indah sehabis pulang kerja, aku pun niat sekali melakukan testpack. Yup benar, ada dua garis dalam alat tes kehamilan, sebagai pertanda bahwa aku positif hamil. Lalu, kami pun yakin kalau benar-benar hamil setelah periksa ke dr. SpoG dan menurut bu dokter spesialis kandungan tersebut aku positif hamil 2 week.
Hari-hari bahagia bersama dedek kecil di perut akhirnya penuh kejutan. Tiap minggu selalu saja ada hal baru yang aku rasakan. Mulai dari merasa neg dan mual di usia kehamilan 2 bulan sampai 3 bulan hingga keinginan aneh atau yang akrab dikenal ngidam. Sebagai wanita pekerja, saya pun tak ingin mual mengganggu aktivitas kerja. Namun, terkadang khawatir dengan obat antimual yang diresepkan dokter apakah aman untuk si dedek. Jadilah saya rajin mencari informasi penggunaan obat anti mual untuk ibu hamil.
Selain itu, karena ini kehamilan pertama, suami, orang tua, mertua, bahkan beberapa tetangga jadi ikut mewanti-wanti saya untuk tidak makan ini dan itu. “Hati-hati Nduk makannya, kandungannya masih rawan, jangan makan nanas,” kata orang tua. Apa benar sih nanas itu tidak boleh dikonsumsi ibu hamil. Berkat Ayah dan Bunda, saya jadi tahu, ternyata itu hanyalah mitos dan ibu hamil boleh makan buah nanas. Bahkan anggapan tidak boleh makan daging kambing, durian, cumi-cumi, masakan pedas hanya mitos. Tidak ada yang dipantang ibu hamil, asal tidak berlebihan. “Hore! Aku boleh makan apa pun kamu juga dek, asal sehat,” selorohku waktu itu.
Kini kejutan-kejutan dari dedek bayi di perut kian hari kian menakjubkan. Aku sudah bisa merasakan tendangan-tendangan kecilnya. Mungkin si dedek bayi sedang asyik jumpalitan di dalam perut sana ya? Nah, kalau sudah merasakan nyerinya, aku tidak boleh mengeluh. 
Aku pun suka mendengarkan musik untuk si dedek bayi. Sembari bekerja di kantor, kuputar saja musik klasik untuknya dan juga untukku. Ceritanya, kami saling berbagi headset gitulah. Satu headset kutaruh di telingaku satu lagi di perutku. Kita kompak banget kan? Terkadang teman kantor yang melihat ketawa-ketiwi melihat tingkah bumil sepertiku ini. Apa pun pasti kulakukan, mengingat pentingnya musik untuk stimulasi janin.
Aku dan suami juga tidak ingin kehilangan moment-moment berharga saat kehamilanku ini. Setiap bulan, saya selalu rutin melakukan USG untuk melihat perkembangannya di dalam perut sana. Hem, ingin nangis rasanya setiap kali dokter menjelaskan ini dan itu di monitor sambil melakukan USG. 
Saya juga mencari informasi mengenai USG untuk kehamilan ini dari majalah Ayah Bunda. Nah, ini foto saya saat sedang membaca majalah Ayah Bunda.





Sekarang usia kehamilanku sudah 6 bulan. Selain persiapan mental untuk menghadapi persalinan nanti, aku pun mulai intip-intip beberapa baby shop untuk membeli baju dan perlengkapan bayi. Di sini aku nggak boleh kalab juga ya, karena harus hati-hati mempersiapkan segalanya termasuk keuangan. Tentulah, karena periksa rutin kehamilan setiap bulan, nutrisi yang bagus, susu kehamilan, biaya persalinan dan perlengkapan bayi itu tidak bisa dikatakan murah. Untuk mengatasi semua ini, saya pun juga belajar banyak lho dari  tips hemat belanja kebutuhan bayi. Andai saja saya tidak jauh dari saudara dan orang tua, mungkin bisa juga sedikit berhemat dengan memakai lungsuran anak sepupuku.
Sambil mempersiapkan segalanya menyambut si buah hati, menikmati kejutan-kejutan aduhai di trimester tiga ini Ayah Bunda pastilah selalu menjadi website langgananku. Apalagi banyak sekali nanti yang harus kuketahui setelah tangis merdunya meluluhkan hatiku dan kuberikan asi pertamaku. Yup, dan semua itu ada di Ayah Bunda, mulai dari bagaimana menyusuinya, pascamelahirkan, sampai mengetahui pertumbuhan bayi. Rasanya sudah tak sabar, semoga diberikan kelancaran untuk menjadi orang tua yang bisa mendidik dan merawatnya kelak.
Terima kasih Ayah Bunda, hari-hari bersama perut buncitku begitu berkesan dan istimewa bersamamu.


Minggu, 21 Oktober 2012

Kehamilanku Vs Mi Instan

                

                                        Sumber: femina.co.id


 “Kamu nggak boleh lagi makan mi instan, karena kamu lagi hamil!” ucapan suamiku suatu hari.
Padahal, aku doyan banget sama yang namanya mi instan. Apalagi kebiasaan lama sebagai anak kos di Jogja, yang terbiasa perut keroncongan di malam hari. Kemana lagi kalo nggak lari ke borjo dekat kos-kosan dan memesan mi telor rebus + cabai rawit mantaps buatan si mas-mas borjo.
                Kini, demi dedek bayi yang tengah ada di rahimku, aku nggak boleh lagi makan mi instan. Sedih sih, tapi harus gimana lagi. Sebenarnya hal ini terlalu berlebihan nggak sih?  Pikirku kemudian. Aku pun mulai bertanya ke sana-kesini soal hal ini. Pendapat pun berbeda-beda. Kalau dari beberapa teman sih bilang,”gpp kok... asal jangan sering-sering, buat aja kalo lagi pengen,” kata tetanggaku yang dulu tetap makan mi instan ketika hamil anak pertamanya yang kini sudah 4 tahun dan tidak terjadi apa-apa.
                Tapi, pendapat berbeda lagi dari teman kantor yang memang background pendidikannya dari kesehatan ini. “Emm, mi instan itu buat orang dewasa dan sehat saja sebenarnya nggak  boleh, apalagi buat yang baru hamil!” Gubrak... padamlah keinginan saya untuk mengeyel ini dan itu, karena sebenarnya pengennnnnn banget makan mi instan pas hamil.
                Tapi lagi-lagi aku harus berpikir ulang ketika melihat stock mi instan di rumah yang sangat menggoda untuk kumasak itu. “Tetap saja aku tidak berani!” Kuamati beberapa mi instan yang pernah kubeli sebelum aku hamil itu. Dari mi goreng dengan merek X dengan rasa rendang pedas, balado sampai mi rebus dengan merek berbeda dan rasa gulai pedas, soto, dan kari favoritku. Kuhitung, jumlahnya ada 10. Mau diapakan??? Kubaca expired-nya... ternyata tinggal 1 bulan lagi.
                Sayang sih dibuang, tapi sayang juga untuk dimakan... sayang si dedek maksudku. Dan ternyata, Jreng... jreng! Demi menyelamatkan nafsuku untuk tidak makan si mi instan... suamiku membuangnya dan melarangku untuk tidak membelinya saat belanja ke supermarket. Ya sudah... dada dulu mi instan... tunggu si dedek bayi lahir, dengan sehat, selamat, shaleh, dan pintar (^pintarnya harus lebih pintar dr ayah dan bundanya lho!). OK Nak, karena Bunda sudah berjuang tidak menyentuh mi instan juga demi kamu... *halah.
                Sabar, 3 bulan lagi... bisa makan mi instan + telur + cabe rawit.. *slurpppppp!

Jumat, 20 Juli 2012

Cerita Bumil

Testpeck dan positif .... ! Alhamdulliah ya Allah atas anugerah yang tak terkira ini. Perasaan dag --- dig --- dug tak karuan menyambut hari-hari setelahnya atas kpercayaan yang Engkau berikan.
      Semoga bisa terus menjaganya dan Engkau berikan kelancaran sampai 9 bulan 10 hari nanti. Amin.

Hamil dan mual?
     Di awal kehamilan, usia 1,5 - 3 bulan sensasi mual ini akan selalu menemani hari-hari bumil kata beberapa website kehamilan yang aku kunjungi. Dan, aku pun merasakannya, tapi lagi-lagi si dedek sepertinya tahu betul akan sama-sama bund2 untuk melewati hari-harinya dengan bahagia. Jarang aku merasakan mual seperti yang orang-orang bilang dan rasakan itu. Terkadang/sesekali merasa neg dan mual ketika perutku mulai kosong. Mungkin si dedek di perut sudah kelaparan ya, jadi bilang ke bund2nya dengan rasa mual itu. Setelah diisi makanan, pisang, biscuit atau baso si perut langsung baik2 saja. "Terima kasih ya dek, maafkan Bund2.. kalo kamu sampai lapar di dalam sana."

Ngidam?
Nah, ini yang aku bingung, kenapa aku nggak ngerasa ngidam ya? Apakah ini aneh, Ah, sepertinya tidak. Si dedek pasti shaleh tidak manja dan ingin jadi anak yang tangguh. So... bundanya pun nggak ngidam apa-apa.

Yeahhhh... dan sekarang usia kandunganku sudah hampir 3 bulan. Sudah beberapa kali merasakan kedutan di perut. Mungkin itu gerakan kecil si dedek ya.....? Kalau sudah lewat 3 bulan, itu artinya sudah mulai aman, amin ya Allah. "Sehat terus diperut Bunda ya Nak, bunda akan minum susu, makan makanan bergizi untukmu."
         Seperti ibu-ibu lain, aku pun tak sabar menunggu tendangan-tendangannya di perut sana. Jadilah anak yang lincah dan kreatif kelak ya. Bunda menunggu kejutan-kejutan indahmu dari hari-hari. Cup cium bunda untukmu... Muaaaah


Selasa, 15 Mei 2012

Senang Jadi Editor? Mengapa Tidak!


Meneliti satu demi satu aksara, metani dalam istilah Jawa, dan membahasakan tulisan yang masih sarat dengan bahasa lisan, atau melogiskan kalimat dari yang tidak logis menjadi logis, bahkan sampai ke ranah menilai isi sebuah buku apakah layak atau tidak diterbitkan. Wkwkwkwkw... seabreg ya pekerjaan editor itu? Tidak berhenti sampai di situ, terkadang mata saya dibuat juling karena mencocokkan foto satu-satu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan naskah.. Hiyaaaaaaaaaaaaaaaa.....* But i love my activity as an editor.
    Entah memang Allah menjodohkan saya untuk mencari rezeki dari sini, atau memang ternyata kecintaan saya di dunia aksara ya? Terkadang, dengan pekerjaan seabreg ala editor itu tak jarang saya berselisih paham dengan penulis *lalu mereka bilang saya ribet, ndremimil atau apalah disebutnya. Tapi ya, harus seperti itu, supaya bukunya mempunya value dan berkualitas.
    Dunia editor memang tak terpisahkan dengan penulis, bahkan, melalui mata batin editor pun terkadang naskah bagus bisa dipesan ke penulis sesuai dengan taste editor yg bersangkutan dan nyatanya jadilah buku best seller. Namun, gimana jika saya ditantang untuk uji nyali menulis satu buku (3 minggu) karena rata-rata menyuruh penulis menyelesaikan deadline 3 minggu dengan semena-mena dan marah-marah kalau melanggar deadline. *wkwkwkwkw tentulah saya angkat tangan" *nyadar. "Job saya ngedit mbak bukan nulis", *tepoks jidat langsung saat saya disindir salah seorang penulis.
      Ya, dan semua pekerjaan itu selalu penuh dengan tantangan, kepuasan, juga kesenangan. Saya akan senang mengedit naskah-naskah ringan yang tentunya dekat dengan kehidupan keseharian dan hobi saya, tapi saya pun juga akan sangat senang dan tertantang untuk mengedit tulisan yang mengundang ketertarikan keingintahuan saya, atau pengetahuan-pengatahuan baru yang menarik.
      Jika suatu ketika saya menemui ketidaksenangan dalam mengedit buku dengan tema tertentu, saya selalu mencari sisi-sisi kesenangan lainnya. Atau mengambil sisi positif dari hal baru yang akan saya temui dalam naskah itu. Dan benar saja, saya memang harus menyentuh naskah dengan kesenangan dulu, jika tidak "apa jadinya editan saya *tidak akan maksimal dan yang rugi penulis, juga perusahaan yang menghidupi saya.
       Jadi yuk, menyenangi apa pun pekerjaan kita, menciptakan peluang-peluang baru dari pekerjaan yang kita minati sekarang, dan semoga semakin berkembang di jalur yang kita pilih sebagai pekerjaan kita itu.

Semangat!!

Selasa, 24 April 2012

Tujuh Lembar Daun Salam Saat Masak Pertamaku: “Sayur Lombok Ijo Khas Gunungkidul Yogyakarta”


Masa sih perempuan nggak bisa masak!” Celetuk ibu saya waktu itu. Meski, boleh dikata umur saya masih belum malu-maluin untuk dibilang tidak bisa masak. Yup, karena waktu itu saya masih kelas 6 SD. Saya yang masih SD memang sering ngrecokin ibu saya di dapur. Mulai bantuin ngulek bumbu, iris bawang merah, dan lainnya. Sebenarnya saya juga tidak memiliki cita-cita, sebagai perempuan pintar masak nanti, karena mungkin 15 tahun lagi ketika saya nanti berumah tangga, saya mau apa-apa ada yang urus, karena saya ingin menjadi wanita karier dan membantu suami menopang kebutuhan keluarga “ce ilee” (pemikiran polos anak SD yang mikir hidupnya mapan di masa depan).
            Sampai suatu hari, saya dan keluarga makan di sebuah warung makan khas kota kelahiran saya, Gunungkidul, yakni Sayur Lombok Ijo Nasi Merah Mbah Jirak Semanu Gunungkidul. Warung makan yang tidak pernah sepi. Di balik kesederhanaan warung berdinding bambu ini, tak jarang pelanggannya bermobil merci dan mobil mewah lainnya. Bahkan, sering pula berplat nomor luar kota.
            Pertama kali ke warung itu, saya merasakan sayur lombok ijonya nendang banget rasanya. Di tambah menu lainnya, yakni empal sapi dan nasi merah, membuat saya juga keluarga makan dengan nikmat. Dari situ, saya ingin sekali membuat sayur lombok ijo sendiri di rumah. Saking ingin membuat masakan ala warung makan Mbah Jirak yang enak itu.
            Yah, dan jadilah saya mempraktikannya di rumah dengan tangan sendiri. Suatu hari saya pun berniat membuat sayur itu, “Bu aku mau bikin sayur kayak di warung kemarin apa saja bahannya?” tanyaku kepada ibuku.
Tapi, namanya anak kecil, bolak-balik tanya resep ke ibu, dikasih tahu namun tetap saja tanya lagi dan tanya lagi. Mungkin, waktu itu ibu saya jengkel menjawab pertanyaan saya. Yang paling lucu, dan sampai saat ini membuat saya ketawa kalau ingat adalah soal daun salam. Saking jengkelnya menjawab pertanyaan saya mengenai bahan-bahan membuat sayur lombok ijo sampai-sampai ketika saya tanya, “Daun salamnya pakai berapa lembar bu?” Apa jawaban ibu saya waktu itu?
“Pakai aja tujuh!” jawab ibu saya sambil berlalu karena sudah pusing dengan ulah saya. Apalagi dapur berantakan, alat-alat masak ibu berserakan di mana-mana. Belum lagi air yang berceceran, membuat  lantai dapur basah tak karuan. Maklumlah, baru pertama kalinya masak, sudah tidak memperhatikan harus rapi ini dan itu.
Dan, kedodolan saya pun dimulai. Saya benar-benar memasukkan tujuh lembar daun salam di sayur lombok ijo yang saya buat.  Setelah matang, saya lalu menyajikan sayur itu di dalam mangkok untuk disantap keluarga. Ayah saya pun, ingin mencoba masakan saya kala itu, namun ia tertawa melihat sayur lombok ijo yang penuh daun salam. "Ini bukan sayur lombok ijo, tapi sayur daun salam", celetuknya sambil makan. Dan ibu pun tertawa terpingkal-pingkal.
 “Ibu tadi itu bilang berkali-kali, daun salamnya 1 atau 2 saja, tapi kamu terus saja tanya, ibu capek ya sudah ibu bilang tujuh, ee… ternyata kamu masukkan beneran tujuh”, cetus ibu masih dengan tawanya.
Tapi, mereka pun lalu mencicipi masakan pertama putrinya, meski rasanya pastilah aneh. Dan aku, begitu senang karena bisa memasak sayur lombok ijo meski rasanya memang jauh jika dibandingkan warung makan Mbah Jirak. "Yang penting, masakanku tidak mubazir, apa pun rasanya toh bapak dan ibuku masih mau memakannya", pembelaan dalam diriku kala itu.
            Pengalaman pertama memasak memang sulit dilupakan. Lucu, konyol, penuh keingintahuan ala anak-anak putri yang beranjak remaja. Sampai sekarang pun, ketika saya sudah menikah, lalu memasak menggunakan daun salam, saya masih sering teringat dan tertawa sendirian. Di tambah lagi dengan telepon ibu dari rumah (Gunungkidul) yang kadang bertanya, “Masak apa hari ini, pakai daun salam berapa, tujuh?” Hahaha.... dan saya langsung ingat momen itu.
            Kini saya tinggal jauh dari orang tua, menikah, dan merantau ke Bandung bersama suami. Kadang, ketika rindu kampungku, Gunungkidul, sayur lombok ijo tak ayal menjadi menu istimewa bagi kami sekeluarga. Tak, jarang suamiku bilang “Masakanmu enak lho dik,” hehe.. saya pun jadi tersipu. Tapi, tentu sekarang daun salam yang saya pakai hanya 2-3 lembar saja. 
            Dan, ini adalah masakan saya yang saya ceritakan dari tadi, namun dengan daun salam yang tidak lagi tujuh dan juga dimasak oleh tangan perempuan yang sudah dewasa, yakni saya yang kini sudah 26 tahun. Sayur lombok ijo ini pun, menjadi pengobat rindu akan kampung halamanku, dan juga rumahku, yang sering menjadikannya menu andalan dalam keseharian keluarga. Apa saja sih resepnya? Sederhana saja kok. Berikut ini resepnya.


Sayur Lombok Ijo
     Bahan:
  •   2 lonjor tempe (@2 ribuan)
  •   600 ml air untuk menyantan
  •   1/2 butir kelapa
  •   ½ ons cabai hijau
  •   5 butir cabai rawit hijau
  • 2 sdm minyak goreng untuk menumis 
      Bumbu:
  •   2 siung bawang putih (haluskan)
  •   1 sdt garam (haluskan)
  •   4 siung bawang merah (iris)
  • 1 rsj lengkuas (iris)
  •   ½ sdt micin
  •   2 lembar daun salam
  •   ½ sdt ebi
  •   Gula merah secukupnya



Cara membuat:
1. Tumis bawang merah sampai harum. Masukkan cabai, tumis sampai matang.
2. Masukkan bumbu halus, aduk rata sampai harum.
3. Tambahkan tempe,  ebi, daun salam, lengkuas, gula, micin aduk sampai rata lagi.
4. Masukkan santan, aduk rata jangan biarkan santan menggumpal.
5. Tunggu hingga mendidih dan harum.
6. Angkat, dan sajikan bersama keluarga tercinta.
           
         Dan, inilah sayur lombok ijo buatanku. Hemmm,, paling pas ditambah kudapan daun singkong atau daun bayam. Sayang, stok sayuran dikulkas saya tinggal tomat dan labu, dijadikan garnis saja gpp ya ^...^ Yups, ada yang mau mencicipi, monggo silakan?
 
           Ini pengalaman pertama memasakku, apa pengalamanmu?

Kamis, 05 April 2012

Ngintip usaha kecil yuk

Akhir-akhir ini di sela-sela kerja saya jadi sering bolak-balik nengok sebuah situs maupun blog tentang bisnis usaha kecil menengah. Tertarik? Ya mungkin seperti itu. Saya pun juga asyik mengintip beberapa kiat sukses pebisnis online maupun offline dengan berbagai bidang, dari kuliner sampai jasa kreatif.  Sambil mengintip kisah sukses mereka, terkadang saya membayangkan diri sendiri yang hanya sekadar mengintip. Oh no! ^tepok jidat # deh, bener-bener tepok berkali-kali.
         Aktivitas saya akhir-akhir ini pun, membuat saya tak sengaja disinggungkan dengan berbagai pernik soal bisnis, entah bisnis kuliner, fashion, maupun toko online. Eits, tapi singgungan itu hanya sebatas saya mengedit buku-buku how to, bisnis dan peluang usaha. Hemmm, lagi-lagi saya hanya bisa berdecak kagum ketika mendapati sebuah analisis usaha dan mengetahui sebuah usaha yang simple, namun omset tak bisa dibilang simple. Huuuuu... huuu... huuu.
          Tak hanya sampai di situ, beberapa teman juga sudah memberi kabar, "aku sekarang punya sampingan ini dan itu lho. Hasilnya tak seberapa, tapi lumayan lah buat memberi kepuasan keinginan batin untuk memulai bisnis kecil-kecilan, meski itu hanya dengan menjual hal-hal kecil." Owh.. Stop bilang HANYA! Bukankah orang-orang sukses itu dimulai dari yang kecil ya?
           Dan apa yang kulakukan sekarang masih sama, mengintip dan mengintip sesuatu. Tapi kan, kalau ingin seperti mereka, butuh proses. Membangun usaha, meskipun kecil itu nggak instan! Dibutuhkan persiapan mental, modal, dan siap gagal. So... harus disiapkan sedari sekarang, dan bersiap mau kemana sih? Jadi, mengintip sebanyak-banyaknya masih bisa dilakukan sebagai proses belajar. ^ayee^

Jumat, 17 Februari 2012

Suatu Pagi di Hari Senin

    Hari Senin... apa komentar kamu tentang hari Senin? "Satu hari di awal minggu, hari yang sibuk dengan rutinitas kerja, hari yang biasanya lebih macet dari hari-hari lainnya". Atau apa punlah sederet komentar terhadap hari Senin ini. Kalau bagi saya, hari Senin adalah hari di mana saya harus berangkat kerja lebih pagi, dan akan berebut angkutan ke kota (kantor) di pintu tol supaya tidak terlambat.
    Sudah,... aku tidak akan lagi membahas tentang makna hari Senin, tapi lebih ke sebuah pagi di hari Senin itu.
Seorang ibu tergopoh-gopoh berseragam PNS menyeberang jalanan yang begitu padat oleh kemacetan kota. Usia beliau mungkin seumuran dengan usia ibuku ya, sekitar 50an tahun. Namun, karena beliau agak gemuk jadi terlihat tergopoh-gopoh cara berjalannya. Aku melihat sang ibu menyeberang sampai ia berhasil melewati lalu lalang bis, motor, mobil yang begitu padat merayap. Dia berjalan ke sebuah halte di mana aku berdiri menunggu angkutan ke kota.
       Aku pun tersenyum, karena beliau juga menitipkan senyum dari balik lipstik tebal dan wajah yang mulai mengerut itu.
"Bade ngadamel neng"?
"Iya buk, jawabku sembari tersenyum".
"Ini teh jam seberaha ya neng?"
"Jam 7 .15 bu".
Beliau tampak panik setelah mendengar jawabanku.
"Ibu teh, telat neng, upacara tos mulai... padahal saya pembina upacara".
Ternyata si ibu adalah guru SD dan sudah jam 7 lebih dia masih di pintu tol, padahal dari pintu tol ke sekolah tempat ia mengajar biasanya ditempuh 1 jam. Ini gara-gara kena macet.
1 angkutan tak berhenti,
2 angkutan tak berhenti,
3 angkutan juga tak berhenti, semuanya penuh.

Si ibu tampak bingung, tidak mendapat angkot. Kalau saya, memang masih kepagian berangkat jam segitu. Berangkat jam 8 kurang 15 pun gak akan terlambat.
Kali ini, ada bus DAMRI, bus biru yang lewat di depanku dan si ibu itu terlihat sudah sesak. Bus Damri tidak berhenti di depan kami, padahal si ibu mau ikut menumpang. Bus itu memang memperlambat jalannya.
Seketika si ibu mengejar bus DAMRI sambil berlari tergopoh-gopoh. Sepatu jinjit, tas tangan berisikan tumpukan buku dan kertas tak diindahkannya. Bus Damri berhenti 300 meter jauh di depan kami. Dan si ibu tetap berlari mengejarnya. Andaikan si ibu itu ibu saya, batin saya (miris).

Pagi itu, saya hanya tertegun, melihat sang ibu yang berlari mengejar bus itu. Saya membayangkan jika itu ibu saya. Harus berlari-lari mengejar angkutan karena sudah terkejar waktu, harus serba diburu-buru karena berangkat terlambat sedikit pasti akan terkena macet. Ternyata benar, kehidupan di kota itu lebih keras.

Syukurlah, ibu saya tinggal di desa yang tak kenal macet
Syukurlah, ibu saya bisa naik motor
Syukurlah, ibu saya bisa mengajar tepat waktu tanpa harus memburu angkutan

Dan, masih dengan ketertegunan pagi itu, semoga si ibu yang tergopoh-gopoh mengejar Damri itu selamat sampai sekolahnya dan bisa mengajar meskipun terlambat terjebak kemacetan Bandung.

(Tol Cileunyi, suatu pagi)

Selasa, 14 Februari 2012

Jogja atau Jatinangor

Jogja atau Jatinangor? Dua-duanya adalah rumah bagiku. Bukan untuk disebut sebagai rumah pertama maupun rumah kedua. Pokoknya kedua tempat ini mengiringi langkahku sampai saat ini.
    Jogja... kota yang begitu nyaman menurut versiku. Semenjak dulu, dari aku SD sampai bekerja dan usiaku 25 tahun, aku belum pernah meninggalkan kota ini untuk tinggal berlama-lama di kota lain. Di sini, kota yang dikenal dengan kota pendidikan ini memang khas dengan universitas ternama. Tak ketinggalan, suasana kotanya pun khas mahasiswa rantau, kuliner enak tapi murah, dan seabreg tempat-tempat menarik nan unik, yang begitu sayang untuk dilewatkan, atau bahkan ditinggalkan. *hiks,,,, hiks. Sampai-sampai lulus kuliah, aku masih sangat betah tinggal di kota ini dan berkarier di sini.
     Jatinangor....!! Kota yang kedua aku sebutin ini, tadinya nggak pernah aku bayangkan ataupun aku tahu...  Tapi, nyatanya saya berjodoh dengan daerah ini. Suami yang lebih dulu memutuskan membeli rumah mungil di pinggiran Bandung (yang sudah masuk Sumedang) ini, membuat saya pasrah untuk mengangguk dan berkata ya "baiklah.. saya mau ikut denganmu". Awalnya, saya membayangkan tinggal di kota Bandung yang dekat dengan keramaian, pusat-pusat perbelanjaan atau katakanlah tidak jauh dari kota. Namun, tabungan suami hanya cukup untuk membeli rumah mungil di Jatinangor saat itu (hiyaaaa jauuuh kalau ke kota).
      Tak apa... aku pun menikmati gunung geulis yang menjulang tinggi di atas perumahan yang aku tinggali. Aku menikmati kokohnya gunung yang menjulang tinggi, setinggi angan dan harapanku akan kehidupanku kelak di sini. Dan di jatinangor ini pula... rumahku berada di dekat kawasan pabrik tekstil Rancaekek (tapi gak kena polusi coz dataran tinggi). Jadilah lingkunganku banyak karyawan pabrik.
        Unpad, IPDN, ITB. Tiga kampus ini juga dekat dengan rumahku. Kadang, untuk melepas penat dan berburu kuliner ala mahasiswa aku pun menyambangi lingkungan kampus ini. Hem... apa yah bedanya sama mahasiswa jogja?? Nah yang ini belum nemu jawabannya. Pasar dadakan saat hari Minggu pun ada, mirip banget sama seputaran MASKAM UGM.
          Jogja dan Jatinangor sama-sama istimewa bagiku. Jogja..... aku pasti akan sering pulang... dan Jatinangor..semoga di tempat ini, yang hampir setahun saya tinggali bersama suami di tahun-tahun selanjutnya memberikan kenyamanan dan kemandirian untuk kamu memperjuangkan hidup (lebay)

Suamiku ... ^.^ makasih cint.. tinggal di rumah kita di jatinangor memang bisa menjauhkan kita dari budaya hedonisme (cukup irit) sekaligus menikmati udara gunung yang belum banyak terkontaminasi oleh polusi. 

Senin, 23 Januari 2012

Suamiku pintar masak

Kali ini saya pengen bercerita tentang masakan suamiku yang lebih enak dari saya, lebih variatif dari saya. Malu???? Ah tidak, justru saya bangga dan merasa sangat di bantu dalam urusan dapur.

Suatu hari, pernah tetangga main ke rumah dan mencicipi masakan yang sengaja saya sajikan di piring. "Emm, enak, masakanmu", cetusnya. Saya pun tertawa dalam hati tak menjawab, seakan ingin berpura-pura itu masakan saya. hehehehe...
        Ya begitulah, rutinitas suamiku yang memang kadang tidak terlalu sibuk dalam pekerjaannya membuatnya sering menyibukkan diri di dapur. Sore ketika saya pulang kerja, kadang dia sudah menyiapkan masakan kesukaan dia yang juga ia berharap kesukaan saya ( kebalik ya). Punya suami doyan masak, memang nggak hanya bikin saya seneng. Kadang saya dibuatnya pusing atau pengen marah setengah mati. Kenapa? Kalau sudah urusan masak-memasak dengan aksi tangan saya...dia akan lebih ribet daripada suami-suami yang jarang menyentuh panci, pisau, bawang merah, bawang daun, atau barang-barang dapaur lainnya. Kadang-kadang, untuk urusan menggoreng telur, memasukkan bumbu ke tumisan, atau kebanyakan memberi gula bisa membuat cekcok. Hehehe.. mungkin ini seninya. Gak akan ada seninya, kalau gak ada ribut-ribut kecil gara-gara garam, micin, dan gula... heheheheh...batinku menyenangkan diri sendiri.

Alhasil, di hari libur, sabtu minggu tak ayal, suamiku masak masakan enak ala kami. Udang saus tiram, udang tepung, bakmi Jawa dan lain-lain. Kadang pun masak masakan ala Jogja yang sekarang susah kami jangkau.
Yah, semoga hobi ini tak sekadar hobi. Bisa nggak ya, kelak jadi bisnis* Mulai melirik usaha kuliner sama suami semoga diberikan jalan.. hehehe..amin  

Kamis, 19 Januari 2012

Gurauan Hidup

Menjadi ibu rumah tangga atau nerusin karier? Itu menjadi dilema bagi saya setelah menikah dan  harus ikut suami tinggal di tempat baru yang sama sekali tidak ada saudara di sini. Menikah.... resign dari tempat kerja lama di Jogja yang bagi saya cukup nyaman, dan beradaptasi dengan lingkungan baru, bahasa baru, macet, banjir... hemm.... hemm... aduuuhhh...aduuuuhhh.
          " Tenang, kamu entar bisa kok kerja dari rumah. Nulis, jualan online, jadi editor frelence atau apa pun. Waktunya bakal lebih fleksibel dan bisa bikin kamu lebih mandiri", saran teman saya meyakinkan ketika, aku berkeluh kesah tentang ini itu. Serasa masih berat melangkah.
              "Yup, saya pun mencoba bekerja dari rumah, menjadi editor frelence dan membiasakan diri menulis. Tapi, agaknya saya belum bisa memanage diri saya untuk bekerja dari rumah, memang sih ada saja kerjaan. Tapi beda aja.... belum lagi tetangga kompleks yang menganggap saya nggak mau keluar rumah, malah dibilangin ini itu. "Maaf bu...saya gak biasa nggosip, tapi salah satu hobi saya nonton gosip artis"..hekekek. Saya sudah terlanjur terbiasa dengan rutinitas pergi pagi pulang petang dan menghabiskan waktu di kantor. Hem.... hem... Bagaimana cara mengubah hal ini ya?"
               Akhirnya.. lagi-lagi saya memutuskan untuk bekerja... menantang kemacetan kota Bandung tiap pagi, dan begitu juga ketika pulangnya masih saja macet.
                Biarkan dulu saya bergurau dengan waktu, bergurau dengan macet, bergurau dengan buru-buru... dan jika sudah lelah bergurau pun... pasti akan begitu menikmati senangnya bekerja di rumah dan bergurau dengan si kecilku nanti. Amin